
Memoirs of a Geisha: Pembebasan Persepsi dan Kontroversi
Sutradara : Rob Marshall Produser : Lucy Fisher Steven Spielberg Douglas Wick Bintang/Pemain : Zhang Ziyi, Ken Watanabe, Gong Li, Michelle Yeoh, Youki Kudoh, Suzuka Ohgo Musik : John Williams Distribusi oleh : Columbia Pictures Keluaran : 9 Desember 2005 (USA) Durasi : 144 menit Bahasa : Inggris Biaya Produksi : US$85 juta Memoirs of a Geisha adalah film laris yang baru saja tayang di berbagai negara. Film ini diangkat dari sebuah novel yang diterbitkan pada tahun 1997 karya Arthur Golden. Cerita berawal dari perkampungan nelayan miskin tahun 1929, di mana seorang anak berusia 9 tahun (Chiyo) dijual oleh orangtuanya yang miskin kepada pemilik okiya (geisha house). Malangnya Chiyo dan kakaknya (Satsu) harus terpisah pula karena kakaknya dijual ke sebuah rumah bordil. Mulailah Chiyo kecil hidup di okiya di tengah Gion—perkampungan geisha Kyoto—yang berada dibalik lembah sempit. Di okiya Chiyo kecil (Suzuka Ohgo) hidup prihatin dengan membantu pekerjaan rumah dan selebihnya harus bersekolah untuk belajar seni geisha berupa tari, musik, cara memakai kimono, cara berhias dan manata rambut bersama teman kecilnya Pumpkins di okiya. Di okiya ini pulalah Chiyo mulai mengenal sedikit demi sedikit tentang dunia geisha dari seorang geisha bernama Hatsumomo (Gong Li) seorang geisha cantik bertempramen buruk. Film ini mengisahkan tentang kehidupan seorang geisha di perkampungan geisha Kyoto. Hendak merubah persepsi masyarakat Barat yang menganggap geisha sama dengan prostitusi. Penekanan utamanya cerita adalah tentang keperawanan atau mizuage akan dilelang kepada penawar tertinggi dan wanita sebagai penghibur pria paling berkuasa serta cinta yang dipandang sebagai suatu ilusi. * * * Chiyo kecil berubah menjadi seorang geisha dibawah asuhan Mameha (Michelle Yeoh)—yang melihat banyak keberuntungan di sorot mata Chiyo. Mameha adalah geisha terkenal dan merupakan rival Matsumomo. Mameha meminta Chiyo kepada Nitta (pemilik okiya) untuk dijadikannya murid. Mameha bertaruh dalam waktu enam bulan ia sanggup menjadikan Chiyo sebagai geisha terkenal. Selanjutnya Mameha pun mulai mengajari Chiyo berbagai hal untuk menjadi seorang geisha mulai bagaimana cara menatap dengan sorot mata percaya diri, cara berdiri dari posisi duduk dan berjalan, menari dan bermusik hingga bagaimana cara menuangkan air minum buat pelanggan. Chiyo benar-benar mendapatkan perlakuan istimewa dari Mameha. Mameha mengajarkan semua yang ia miliki kepada Chiyo, bahkan sampai dengan trik melukai dirinya sendiri dengan torehan sepanjang kira-kira 5 cm pada paha kanan nya. Bukannya tanpa maksud ternyata luka ini dimaksudkan Mameha untuk menarik perhatian Dr. Crab yang akan dimintai merawat luka ini. Dr. Krab adalah pria yang paling dikenal sebagai penawar tertinggi mizuage (keperawanan) seorang geisha. Setelah perawatan luka itu, Chiyo (yang oleh Mameha diberikan nama baru sebagai Sayuri) tampil tunggal dalam pementasan tari disaksikan banyak pembesar yang di antaranya Chairman, Nobu, dan Dr. Crab. Dan episode berikutnya Sayuri pun menjadi geisha selebritis. Ia menjadi bintang dalam sebuah pesta taman yang diadakan Nobu direktur perusahaan Iwamura Electric. Di pesta ini Sayuri disambut oleh Chairman (rekan Nobu) yang mengajaknya berjalan di taman. Percakapan sejenak Sayuri dan Chairman dibawah mekarnya bunga Sakura seakan-akan merupakan salah satu detil menarik yang merayakan pertemuan Sayuri dengan Chairman yang diam-diam dikaguminya. Dan bergugurannya bunga Sakura seakan menandakan kesukacitaan ini tampaknya. Sebagai tanda perhatiannya Chairman mengambil bunga Sakura yang tersangkut di rambut Sayuri. Sebagai geisha terkenal Sayuri berikutnnya ternyata berhasil menarik minat Dr. Crab yang berani membayar sejumlah 15.000 yen untuk keperawanannya (mizuage), suatu harga tertinggi yang pernah diterima oleh seorang geisha saat itu. Hal ini membuat Hatsumomo menjadi cemburu dan iri hati. Oleh karena itulah Hatsumomo sangat tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Sayuri. Hatsumomo memasuki kamar Sayuri dan menemukan sebuah sapu tangan berinisial nama seorang pria. Sapu tangan ini sangat berarti bagi Sayuri karena mengingatkannya kepada seorang pria yang pernah dijumpainya pertama kali pada sebuah jembatan di saat kecil ia sedang duduk merenungi nasib dirinya yang telah ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya, ia merenungi nasib hidupnya yang tinggal sebatang kara. Pria ini adalah Chairman (Ken Watanabe) didampingi dua orang geisha kala itu. Chairman telah dengan senang hati membelikannya es krim inilah yang telah mampu membangkitkan minatnya lagi untuk menjadi geisha. Pertemuan Chiyo dengan Chairman ini telah menumbuhkan kepercayaan dirinya sehingga dia lebih menguatkan tekadnya untuk menjadi seorang geisha. Chiyo ingin menjadi geisha sebagai batu loncatan dalam hidupnya. Mengetahui Hatsumomo memasuki kamarnya Sayuri meminta Hatsumomo keluar, namun melihat Hatsumomo menemukan sapu tangan kenangannya dan akan membakarnya Sayuri langsung berusaha merebutnya kembali. Konflik pun tak terelekkan, Sayuri menyerang Hatsumomo hingga menjatuhkan sebuah lampu templok yang berada di atas meja dan menyebabkan lantai terbakar. Bukannya mencoba memadamkan api, sebaliknya Hatsumomo menjadi bertambah kemarahannya. Dengan rambut yang kusut masai dan tatapan garang dipuncak kekesalannya Hatsumomo mengambil dua buah lampu templok dan memecahkannya ke lantai. Dan okiya pun terbakar. Terbakarnya okiya tidak mendapat sorotan lebih jauh oleh sutradara Rob Marshall. Puncak konflik ini hanya digambarkan dengan jelas dengan terusirnya Hatsumomo dari okiya. Sayuri menatap kepergian Hatsumomo dari balik pecahan jendela okiya di lantai dua dengan tidak menampakkan dendam. Sementara Hatsumomo terusir dan untuk terakhir kalinya dari lorong sempit yang sering dilewatinya. Hatsumomo memandangi lagi okiya yang telah sekian lama menjadi rumah tinggalnya dan kini harus ditinggalkannya untuk selamanya. Mengalir bagai air Kehidupan sayuri berikutnya digambarkan oleh Rob Marshall dengan sangat mengalir. Kehidupan Sayuri seakan tanpa kendala mencapai puncak kehidupannya. Mengalirnya alur cerita seakan hendak menjelaskan apa yang tertulis di dalam novel laris karya Arthur Golden ini. Tertulis bahwa Mameha—sang guru--berkata kepada Sayuri yang memiliki berlimpahnya air keperibadian. “Air tak pernah berhenti. Air menyirami bumi, memadamkan api dan dapat merusakkan logam. Karena air di dalam keperibadian kita maka janganlah memikirkan akan ke mana kita mengalir. Apa yang bisa kita lakukan adalah mengalir ke mana bentangan alam ini membawa hidup kita.” Sayuri mantap menjalani kehidupannya menapaki tangga ketenarannya sebagai geisha di Kyoto. Sayang puncak prestasinya ini harus terhenti sejenak karena pecahnya Perang Dunia II dan okiya terpaksa harus ditutup. Namun Sayuri mengungsi dengan selamat karena bantuan Nobu yang adalah pelanggannya. Chairman (rekan Nobu) yang mengatur perjalanannya dan memastikannya selamat sampai ke tujuan. Setelah Perang Dunia kedua berakhir Nobu kembali menemui Sayuri dan meminta bantuannya untuk menarik perhatian Derrick tentara AS calon investornya. Namun Nobu sempat kecewa setelah mengetahui Sayuri ternyata menolak memberikan perhatian lebih kepada Derrick. Oleh karena itu untuk membayar keecewaan Nobu ini Sayuri kemudian secara diam-diam meminta bantuan Pumpkins agar Derrick menemui dirinya di kamar pukul 9 malam. Sayuri berharap Mameha, Chairman dan Nobu yang sedang bercengkrama di taman tidak mengetahui peristiwa ini. Tetapi Pumpkins yang mengetahui betapa dalamnya perasaan Sayuri kepada Chairman membocorkan kejutan Sayuri yang berniat menyerahkan segalanya kepada Derrick karena Nobu. Perbuatan Sayuri pun membuat Chairman kecewa. Akhir dari cerita ini selanjutnya mengalirkan Sayuri kepada episode hidup berikutnya. Seorang danna akan menemuinya. Di sebuah taman Sayuri menunggu dengan dandanan dan kimono cantik. Matanya memandang ke dalam kolam bening di mana daun Sakura berjatuhan satu per satu, wajahnya disinari bias mentari pagi yang memantul bersama riak air di kolam, Sayuri tampak begitu cantiknya pagi itu. Dan tanpa diduganya ternyata pria yang akan menjadi dannanya ini adalah Chairman. Tentu saja ini menjadi kejutan bagi Sayuri dengan setengah tak percaya, pria idamannya berada di depan matanya. Chairman yang berharap dirinya belum terlambat ini dapat diterima oleh Sayuri berkata,”Apakah engkau tak ingin aku menatap wajahmu?”. Dan Sayuri membalikkan wajahnya serta berkata,”Tidakkah engkau tahu bahwa setiap langkah perjalanan hidupku bahkan saat aku menghela napasku diriku melangkah semakin mendekat kepadamu?”. Mereka berdua berjalan menyuri kolam di taman. Dari dalam beningnya air kolam mereka berdua tampak berjalan serasi berbincang dengan bahagia. Nilai ketimuran Nilai-nilai yang ditawarkan film Memoirs of a Geisha ini sebenarnya dari sudut pandang ketimuran memang tidak sepenuhnya dapat diterima sebab nilai-nilai yang ada adalah nilai orang Jepang dan oleh karena itu sudut pandangnya pun harus melihat dari sudut pandang orang Jepang. Film ini di satu sisi hendak mengetengahkan bahwa sesungguhnya geisha berbeda dengan prostitusi. Tapi di sisi lain ditampilkan sisi sesungguhnya dunia prostitusi itu. Bahwa pada dasarnya yang terjadi apabila seorang geisha telah meninggalkan nilai-nilai yang harus diterapkan seorang geisha dia memang akan terjerumus ke dalam dunia gelap yang mirip dengan dunia prostitusi seperti halnya yang dialami oleh Hatsumomo. Hatsumomo di saksikan Chiyo (Sayuri kecil) digambarkan sedang bermesraan dengan pria pelanggannya dan di lain waktu Sayuri juga menyaksikan Hatsumomo sedang bersebadan dengan pria pelanggannya di okiya. Sangat sulit membedakan antara geisha dengan prostistusi. Sebab adegan film tidak memberikan batasan yang jelas. Pada bagian-bagian tertentu dari film ini memang ditampilkan tentang aktivitas geisha sebagai pekerja seni atau penghibur, namun pada bagian lainnya lagi juga ikut ditonjolkan bagaimana seorang geisha terjerumus ke dalam praktik prostitusi itu sendiri. Geisha—yang lebih dikenal pada abad ke-18 dan 19 ini--dalam pengertiannya menurut bahasa Jepang adalah “pekerja seni” atau artis penghibur. Di Kyoto geisha disebut pula dengan kata geiko dan di Kansai disebut sebagai geigi. Sedangkan orang yang sedang belajar menjadi geisha sering disebut sebagai maiko yang telah dikenal sejak zaman Resorasi Meiji. Di China kata geisha diartikan sebagai “yi ji” di mana kata “ji” diartikan segai prostitusi. Dan hal inilah yan membingungkan jika dipadukan dengan konsep mizuage (mempertahnkan keperawanan) seperti dilakukan wanita geisha. Geisha di Jepang sering dibayar sebagai penjamu pesta dan perkumpulan pria yang biasanya dilakukan di tea house (chaya) atau pun di restoran Jepang (ryōtei). Pelanggan sebelumnya harus mengatur janji melalui kenban (kantor pelayanan geisha) yang mengatur jadwal tampil dan pelatihan seorang geisha. Di Jepang sendiri secara sempit geisha dianggap tidak sama dengan prostitusi. Namun demikian citra seorang geisha memang dispekulasikan secara tidak tepat oleh lingkungannya karena sering pertunjukkan seni seorang geisha memang sangat ekslusif di dalam ruangan tertutup, sehingga yang terjadi adalah penggambaran geisha seperti anggapan Barat selama ini, menganggap geisha sama saja dengan prostitusi. Secara tradisional dan peraturan seorang geisha didorong untuk tidak terlibat dengan kegiatan seksual dan hanya diperbolehkan melakukan hubungan seksual dengan pelanggan tetapnya di luar konteks perannya sebagai geisha. Seorang geisha akan dimiliki oleh satu orang danna, seorang pria kaya, yang memungkinkannya jatuh cinta pada danna-nya. Konvensi tradisi dan nilai-nilai hubungan geisha – danna ini penuh intrik dan tidak sepenuhnya pula dipahami oleh orang Jepang sendiri. Saat ini geisha masih dapat ditemukan di rumah-rumah tradisional geisha atau okiya di hanamachi (kota kembang). Dua distrik geisha paling terkenal di Jepang adalah Gion Kyoto dan Gion Pontochō. Geisha dari distrik ini sering disebut geiko-san, mereka terlatih dan mengabdikan dirinya sebagai penghibur dan merupakan geisha terbaik dari yang ada di seluruh Jepang. Kontroversi Jauh sebelum film Memoirs of a Geisha dibuat dan sukses, buku Memoirs of a Geisha juga meraih sukses yang sama di pasaran. Berkaitan dengan buku Memoirs of a Geisha dari Arthur Golden yang terbit tahun 1997 ini, seperti biasanya selalu ada hal-hal yang bersifat kontroversial setelah diedarkan ke publik. Kontroversi pertama justru datang dari Mineko Iwasaki seorang wanita sumber penulisan novel ini, ia menganggap penulisnya telah melanggar kesepakatan dengan menyebutkan namanya dengan jelas di dalam buku tersebut, padahal sebelumnya telah disepakati untuk tidak mencantumkan nama di dalam buku ini. Iwasaki juga mengklaims penggambaran Golden tentang geisha di dalam novelnya sebagai prostitusi kelas tinggi. Meneko Iwasaki sendiri akhirnya menuliskan otobiografinya sebagai seorang geisha dan diterbitkan oleh Washington Square Press di AS tahun 2003 dengan judul Geisha, A Life. Sedangkan di Inggris terbit dengan judul Geisha of Gion. Di samping itu kontroversi juga muncul di balik akting pemeran utama film ini. Banyak orang kecewa karena pemeran utama film ini bukan orang Jepang asli tetapi dibintangi bintang cantik Zhang Ziyi kelahiran Beijing, China, 9 Februari 1979. Sebelumnya Zhang Ziyi yang juga bersama-sama dengan Michelle Yeoh telah berperan sebagai Jen Yu dalam film “Crouching Tiger, Hidden Dragon” (2002) dan sebagai Hu Li dalam film “Rush Hour 2” (2001). Sebaliknya akting Zhang Ziyi dalam film Memoirs of a Geisha ini telah pula mengundang simpati seorang nenek yang pernah menjadi geisha. Ziyi mendapat kiriman surat dan bingkisan misterius dan di dalam surat ini sang nenek mengatakan tersentuh oleh permaianannya di dalam film ini sembari berharap film ini akan membawa kembali ingatan penuh cinta baginya dan teman-temannya. Ziyi pun mendapat kiriman sebuah kimono antik. Zhang Ziyi seperti air yang mengalir dan mungkin juga anda sepertinya. Karena air di dalam keperibadian kita maka janganlah memikirkan akan ke mana kita mengalir. Apa yang bisa kita lakukan adalah mengalir ke mana bentangan alam ini membawa hidup kita.***m

